Kopi dan Film dalam Festival Film Pendek

Widya Washington, yang pernah menyandang gelar Putri Lampung, kini melangkah lebih jauh ke belakang layar ia sedang merencanakan membuat sebuah film pendek untuk festival, kali ini ia bertindak sebagai pemain dan juga  produser di film pendek tersebut. Film Pendek yang bertemakan  kearifan lokal dari tanah kelahirannya. Dengan semangat yang menyala seperti api dalam tungku, ia tengah menyiapkan film pendek tersebut  berjudul “Kopi Manis Ibuku”,sebuah kisah yang lebih dari sekadar film, melainkan secangkir kenangan, perjuangan, dan harapan yang diseduh dalam satu bingkai sinema.

 

Tak asing di dunia akting, Widya Ria Dinata Washington Bastari  nama lengkapnya juga telah menorehkan jejak dalam sejumlah FTV. Ia berperan sebagai ibu bernama Hesti dalam “Petaka Mencintai Adik Ipar”, produksi Mega Kreasi Film yang tayang di Indosiar. Tak hanya itu, ia juga tampil dalam  sinetron “Kenapa Kau Nikahi Aku Kalau Masih Mencintai Mantanmu” garapan sutradara Sam Sarumpaet. Kini, ia siap menapaki dunia produksi dengan membawa kisah yang mengangkat nuansa kearifan lokal dan kehangatan keluarga.

 

Secangkir Harapan di Balik ‘Kopi Manis Ibuku;

 

“Kopi Manis Ibuku” bukan sekadar kisah tentang secangkir kopi, melainkan potret ketangguhan seorang janda yang berjuang membesarkan dua anaknya setelah kepergian sang suami—seorang pengusaha kebun kopi yang dihormati di daerahnya. Sang anak laki-laki berhasil menembus seleksi masuk TNI dengan nilai membanggakan, sementara adik perempuannya, yang mewarisi keahlian sang ibu dalam meracik kopi, membantu membuka warung sederhana. Warung ini bukan sekadar tempat usaha, melainkan ruang dialog dan kebersamaan bagi masyarakat sekitar.

 

Kisah ini semakin kaya warna dengan kehadiran seorang pegiat lingkungan asal Prancis, seorang wanita yang tertarik pada kopi Lampung dan budaya lokal. Pertemuan lintas budaya ini menyajikan perbincangan hangat tentang tradisi, kelestarian alam, serta filosofi kehidupan yang terkandung dalam setiap tetes kopi yang diseduh.

 

 

Sebuah Jembatan Budaya melalui Kopi dan Film;

Widya menegaskan bahwa “Kopi Manis Ibuku” bukan hanya karya sinematik, tetapi juga misi untuk mengenalkan kopi Lampung dan budaya lokal ke panggung dunia. “Kopi bukan hanya sekadar minuman, tetapi juga warisan, perjuangan, dan identitas sebuah daerah. Saya ingin menunjukkan bagaimana kopi mampu menyatukan keluarga, membangun mimpi, sekaligus menjadi jembatan bagi dialog budaya,” tuturnya penuh semangat.

 

Dalam proses produksinya nanti , Widya menggandeng sineas muda berbakat di lampung serta tim produksi utama berpengalaman dari Jakarta. Tak hanya itu, komunitas pencinta kopi dan pemerhati lingkungan turut dilibatkan agar kisah yang dihadirkan memiliki kedalaman yang autentik.

 

Menuju Festival, Membawa Kearifan Lokal ke Panggung Dunia;

Film pendek ini direncanakan akan berlaga di berbagai festival film nasional dan internasional sepanjang 2025. Harapannya, “Kopi Manis Ibuku” bisa menjadi duta budaya yang membanggakan, membawa kisah dari tanah Lampung ke mata dunia.

 

Bagi Widya, seni peran dan produksi film bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati untuk merawat budaya dan menceritakan kisah-kisah berharga dari Nusantara. Dengan semangat dan dedikasinya, ia kembali membuktikan bahwa layar perak bukan hanya tempat bagi hiburan, tetapi juga medium untuk menyampaikan cerita-cerita penuh makna, seperti secangkir kopi yang menghangatkan jiwa di pagi yang dingin.( Witaka)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *